Wifi Vs LAN Selama Pelaksanaan Ujian dari Simulasi hingga ke USBN BK


Di hari pertama USBN BK 2018 sungguh sangat melelahkan, buru-buru nyampe ke sekolah hanya untuk mengatur jaringan wifi peserta supaya bisa konek ke server, itupun dengan tiga jaringan hotspot kiranya bisa menampung semua perangkat (smartphone dan laptop) milik peserta USBN BK yang terdaftar sebanyak 130 peserta di 7 ruangan yang telah ditetapkan, walhasil jaringan bermasalah.

Jaringan bermasalah dikarenakan jangkauan hostpot terlalu jauh dari ruangan ujian yang telah ditetapkan, pengguna IP jaringan juga melewati kapasitas yang diberikan dikarenakan selain SMA, SMK juga sedang melaksanakan USBN, dan IP lainnya juga banyak digunakan oleh guru sehingga hanya sebagian peserta saja yang perangkatnya bisa konek ke jaringan. Sementara ruangan yang jauh dari jangkauan hotspot sama sekali tidak bisa konek dan bahkan ada yang konek namun status tidak mendapatkan alamat IP, padahal sebelumnya sudah diperiksa jaringan hotspot sampai ke ruangan itu.

Mungkin tidak ada kendala untuk satu dua buah perangkat yang digunakan untuk bisa konek ke jaringan, dan baru bermunculan banyak masalah ketika ratusan peserta sedang mengkoneksikan jaringan ke perangkatnya. Sebaiknya memang seperti itu supaya ada pembelajaran di mana letak masalahnya jika ratusan siswa bersamaan menggunakan jaringan. Ayo, sekolah mana yang berani coba?

Tiga buah access point tidak bisa dipindahkan posisinya karena sudah banyak perangkat yang sudah terkoneksi ke jaringannya itu, dan sementara juga sedang digunakan SMK untuk pelaksaan USBN BK, sehingga diperlukan lagi penambahan 3 buah access point untuk kelancaran USBN BK di SMA. Mungkin seperti inilah melodinya sekolah yang satu atap, harus ada yang mengalah dan harus ada yang mencari solusi lain.

Selama ini menggunakan wifi selalu lancar, dan juga sudah digunakan sejak simulasi internal sekolah, namun untuk pengguna IP yang terbatas. Bisa dibayangkan jika ratusan hingga ribuan peserta sedang ujian, jika dipaksakan ke internet, maka sudah dipastikan ujian tersebut gagal dan chaos, dan inilah yang dirasakan peserta USBN BK SMA YAPIP Makassar Sungguminasa di hari pertama USBN, namun masalah itu segera teratasi dan peserta USBN BK SMA YAPIP Makassar Sungguminasa bisa menyelesaikan ujiannya.


Jika seperti itu masalahnya, sangat terlihat penggunaan wifi untuk ujian lebih agak susah dibandingkan dengan menggunakan jaringan kabel (LAN). Pantas saja Kemdikbud selalu menjukniskan UNBK dengan konsep LAN. Namun, walaupun demikian, jaringan wifi dengan settingan yang benar di beberapa pengalaman teman, hasil yang didapatkan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan LAN.

Dengan menyediakan Wifi yang memadai untuk pelaksanaan ujian, kini sekolah tidak perlu lagi menyediakan lab komputer, anak-anak bisa menggunakan laptop atau smartphone yang dimilikinya, dan mau tidak mau inilah yang harus dijalani untuk sekolah yang satu atap. Namun memang selama ini Wi-Fi yang terpasang di sekolah rata-rata tidak dirancang untuk penggunaan dalam jumlah besar.

Sebenarnya ada solusi lain, yakni bisa menunggu peserta SMK selesai USBN kemudian dilanjut peserta SMA nya, tapi bisa dipastikan pulangnya pun agak malam. Namun, dibandingkan dengan semua itu, kesehatan body rekan-rekan ngajar itulah yang utama, jangan sampai di permasalahan ujiannya anak-anak yang sudah di luar jadwal membuat guru-gurunya banyak yang drop. Begitu juga dengan kesehatan siswa, keamanannya pun demikian jika balik ke rumah sudah agak malam, pasti banyak juga orang tua peserta USBN yang cemas.

Berdasarkan pengalaman dan di internet juga ada yang menyarankan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam menggunakan Wi-Fi untuk akses ujian dalam jaringan :
  1. Pemilihan Wi-Fi access point, gunakan produk yang bisa menjamin kemampuan menghandle lebih dari 50 user untuk satu access point. Saat ini yang direkomendasikan adalah Unifi AP Long Range (Ubiquity).
  2. Mikrotik yang berfungsi sebagai router. Disesuaikan dengan banyaknya user. Untuk user lebih dari 100 sampai 200 orang disarankan menggunakan Mikrotik RB 951 2Hnd. Kenapa mikrotik? karena memang saat ini, mikrotik cukup familiar untuk kalangan pendidikan.
  3. Server dan aplikasi, nah ini juga disesuaikan dengan jumlah user yang bakal mengikuti ujian. Aplikasi pun bisa menggunakan software open source seperti Moodle (PHP based), edX (python based), Sakai (java based). Atau bisa juga menggunakan produk dari Pinisi Edubox berupa server dan aplikasi yang terintegrasi (berbasis Raspberry Pi 2), dengan kemampuan menangani 200 user bersamaan.

Selamat mencoba !!!

Label:

Posting Komentar

Smaya >> Kebijakan Komentar
Kami senang dengan komentar yang santun
Baca Kebijakan Berkomentar kami sebelum berkomentar.

SMA YAPIP MAKASSAR SUNGGUMINASA

{facebook#https://www.facebook.com/100012173117216} {twitter#https://twitter.com/schoolyapip/} {google-plus#https://plus.google.com/u/0/110901565791389610503} {pinterest#https://id.pinterest.com/mkssungguminasa/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UC-S_QsY5fXShgK_uu5-ezzw} {instagram#https://id.instagram.com/}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget